Kolaborasi Tiga Pilar: Mahasiswa Teknik Mesin UNU Yogyakarta, Mahasiswa Pengembangan Masyarakat Islam UIN Sunan Kalijaga, dan Ponpes Lintang Songo Piyungan, Gelar Aksi Pemberdayaan Santri, dalam Melatih Partisipasi dan Membangun Solidaritas

Ubur-ubur ikan lele…. .

Masak iya mahasiswa Pengembangan masyarakat islam… tidak ada aksi nyata…rugi le..

Dalam Merayakan Kegiatan Hari Santri ini Mahasiswa PMI berkolaborasi dengan Mahasiswa UNU Yogyakarta yang kala itu sedang melaksanakan laboratorium sosial (labsos) di pondok pesantren Lintang Songo. Kolaborasi apik antara Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Jogja dan Universitas Islam Negeri (UIN) Jogja telah melahirkan program pengabdian kecil-kecilan, namun didalamnya tidak hanya menyentuh aspek sosial, tetapi juga membangkitkan semangat kemandirian, kekompakan dan kepedulian para santri dari berbagai kalangan.

Profil dan Sejarah Singkat Pondok Pesantren Lintang Songo

Pondok pesantren Lintang Songo beralamat di Pagergunung 1, Sitimulyo, Piyungan, Bantul terkenal dengan visi dan misi nya yang amat sangat bagus dengan jargon yang berbunyi Mandiri Agama, Mandiri Ilmu dan mandiri Ekonomi, secara terang-terangan melabeli nama pesantrennya dengan pondok pesantren Islamic Studi Center Aswaja Lintang Songo. Suasana yang terbangun di pondok ini sangat kental NU-nya, penuh dengan segala aktivitas religius yang tenang dan nyaman, meski dengan latar belakang masyarakat yang beragam. Cikal bakal berdirinya pesantren ini dimulai sejak tahun 1991 oleh Pak Heri, panggilan akrab dari H. Heri Kuswanto bin KH Muhammad Zaidan. Pada bulan Mei 2006, oleh H. San Afri

Awang seorang kawan dosen & Ketua Jurusan Fakultas Kehutanan UGM, bersama Pak Heri meluncurkan nama ISC (Islamic Studies Centre) yang kemudian oleh masyarakat disebut sebagai pondok pesantren yang diberi nama Aswaja Lintang Songo, sehingga nama lengkapnya adalah Pondok Pesantren ISC Aswaja Lintang Songo. Pesantren dengan nama ini, diharapkan menjadi lembaga pendidikan Islam yang menjadi pusat kajian ilmu-ilmu agama Islam bermanhaj Ahlussunnah wal Jamaah dan berkarakter "Lintang Songo". Songo (sembilan) merupakan angka terbesar dan Lintang (bintang) sembilan. (Referensi).

Hari santri merupakan hari untuk memperingati perjuangan para santri yang ditetapkan oleh bapak presiden RI ke 7 joko widodo yang merupakan pengakuan resmi atas kontribusi besar santri dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan nasional. Peringatan ini mengusung semangat "Dari Pesantren untuk Indonesia" yang mencerminkan peran strategis pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mencetak generasi berilmu, berkarakter, dan berkontribusi bagi bangsa.

Kegiatan hari santri pada umumnya diisi dengan berbagai kegiatan religius seperti ziarah ke makam wali, upacara bendera, pawai santri, seminar keagamaan, bakti sosial, dan berbagai kompetisi yang melibatkan komunitas pesantren di seluruh Indonesia. Lalu demi membangun partisipasi santri di pondok pesantren lintang songo, kami membuat rangkaian kegiatan yang akan diikuti oleh santri.

Beberapa kegiatan tersebut adalah

1.Kompetisi mewarnai bersama santri TPA (Tempat Pengajian Al-Qur’aan

Tidak hanya sekedar menggembirakan namun dalam mewarnai, santri TPA di latih untuk berkreatifitas memadukan warna dan melatih untuk selalu mengembangkan imajinasi secara keseluruhan serta dapat meningkatkan kepercayaan diri dari hasil mewarnai tersebut.

  1. Kompetisi asah pengetahuan dan kekompakan santri

Kompetisi ini bukan hanya sekedar cerdas cermat biasa yang didalamnya hanya mengasah pola pikir keagamaan dan sains dari tiap-tiap santri, namun kompetisi ini juga bertujuan untuk meningkatkan solidaritas dan kerjasama antar kelompok dalam memberikan jawaban yang paling benar dan tepat. Bentuk tanya jawab yang membantu santri memberikan jawaban yang tepat sesuai pengetahuan mereka, dalam hal ini pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada santri pondok pesantren lintang songo adalah soal keilmuan agama, sosial bahkan matematika, hal ini tak lain adalah untuk memberikan kesempatan kepada santri untuk mengeluarkan seluruh ilmu yang mereka miliki, mereka terlihat cukup antusias dalam merebutkan point jawaban untuk menambah nilai pada kelompok mereka.

Kami bukan sekadar belajar agama di pesantren, tapi juga belajar menjadi bagian dari solusi," ungkap salah satu santri dengan mata berbinar. Program HSN ini, yang menggabungkan kearifan tradisional pesantren dengan semangat kekompakan yang merupakan ide dari kolaborasi antara dua perguruan tinggi Islam terkemuka di Yogyakarta ini diharapkan dapat mengubah paradigma praktik pengabdian masyarakat di lingkungan pesantren, dan menjadikan para santri sebagai agen perubahan yang sesungguhnya.

  1. Kompetisi Estafet Air

Kompetisi estafet air ini diadakan bukan hanya kesenangan semata, namun dalam hal ini ada solidaritas santri yang ditingkatkan dalam kelompok untuk mencapai tujuan mereka bersama yaitu mengisi sebanyak-banyaknya air ke dalam ember melalui gelas yang diikatkan ke kepala santri, yang kemudian diberikan kepada teman yang ada di belakangnya dengan penuh kehati-hatian, sehingga dalam hal ini mereka akan mengandalkan kepercayaan antar teman mereka masing-masing untuk mencapai tujuan bersama.

Kami sangat senang dapat mengadakan acara ini, diharapkan para santri dapat meningkatkan solidaritas yang lebih tinggi, tanpa mengenal status dan usia yang terpaut jauh, kami percaya dengan melestarikan budaya ditambah dengan memiliki landasan ilmu agama yang kuat, santri akan terus berkembang maju dan kelak akan menyokong pembangunan nasional dimasa depan.

Rangkaian acara ini berakhir dengan pembagian hadiah kepada para pemenang dari berbagai perlombaan dan ditutup dengan foto bersama-sama. Sekian dan Terimakasih.