Tantangan dan Peluang Perempuan di Era Digital dan Pandemi Covid-19

Pada sesi kedua dalam kegiatan Seminar Nasional Dakwah dan Pemberdayaan Tenaga Kerja Perempuan pada Selasa kemarin (20/4) via Zoom, Narasumber pertama yang merupakan Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah, Suparto, M.Ed, Ph.D menyampaikan perihal pemikiran Kartini.

Pemikiran Kartini mendorong pemikiran saat itu, yang mana melampui zaman, serta diiringi dengan upaya Kartini dalam membuka sekolah gratis bagi pribumi. Hal ini tentu menjadi contoh sensitivitas Kartini dalam merespon masalah masyarakat saat itu.

Watak Kartini yang keras terutama pada sisi literasi perempuan yang mana saat itu wanita hanya terbatas pada urusan domestiksaja, mendorong beliau untuk mengirim surat dan meminta beasiswa. Kartini memiliki tekad kuat untuk mengenyam pendidikan. Namun, justru beasiswa itu tidak jadi diambil karena Kartini keburu menikah. Dalam pernikahannya, Kartini meminta agar tidak ada pesta besar-besaran dan tidak ada prosesi sungkem terhadap laki-laki.

Selain itu, konsep dakwah tidak hanya mengajak tapi juga mengkondisikan, mencerahkan, menasihati, dan memberdayakan kepada amar ma’ruf nahi munkar.

Perlu diketahui, era disrupsi mempunyai peluang dan tantangan. Diantaranya berimbas pada pengangguran intelektual (banyak sarjana dan diploma yang menganggur) yang disebabkan oleh keterampilan yang tidak sesuai kebutuhan dan ekspektasi gaji tinggi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, dampak dari Covid-19 justru menyebabkan banyaknya pengangguran laki-laki daripada perempuan. Pak Suparto menambahkan, mengapa bisa demikian? Karena perempuan memiliki banyak kreativitas, seperti banting stir membuka usaha dengan memanfaatkan platform digital (berjualan via online). Salah satunya dengan berjualan aneka ragam makanan frozen dan lainnya saat pandemik. Tentu, ada semangat Kartini yang tersambung disini.

Terakhir, Pak Suparto menyampaikan perihal isu utama terkait tenaga kerja perempuan. Perlu diketahui, saat ini, dalam masalah penggajian, gaji laki-laki masih lebih tinggi daripada perempuan. Berdasarkan data BPS, laki-laki digaji sekitar 2.900.000 rupiah sementara perempuan sekitar 2.300.000 rupiah. Di samping itu, rekrutmen di berbagai lowongan kerja masih bias gender, serta promosi di perusahaan pun masih bias gender, seperti posisi direktur, manajer, presiden dan lain-lain. Selain itu, biasanya perempuan masih mendominasi menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) terbanyak di luar negeri.

Di akhir, Pak Suparto menekankan supaya mahasiswa-mahasiswi saat ini untuk memperbanyak keterampilan diri sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja di era digital agar bisa terserap di dunia kerja. (Ayu)