Menata Data, Menumbuhkan Harapan: Kontribusi PPM Wukirsari bagi Desa Inklusi Wukirsari
Tridharma Perguruan Tinggi:Pengabdian yang Nyata Melalui PPM Wukirsari 2025/2026
Tridharma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar konsep normatif, tetapi menjadi landasan utama dalam gerak langkah mahasiswa. Salah satu wujud nyata pengabdian tersebut dijalankan oleh Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melalui kegiatan Praktik Pengembangan Masyarakat (PPM).
Melalui PPM, mahasiswa tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi terjun langsung ke tengah masyarakat untuk berperan aktif dalam membangun, mendampingi, dan menciptakan perubahan sosial. PPM menjadi ruang aktualisasi mahasiswa sebagai agen perubahan yang mampu menghubungkan ilmu dengan realitas sosial.
PPM Wukirsari:Mahasiswa sebagai Aktor Perubahan
Pada tahun 2025/2026, mahasiswa PPM (Naila Syifa, Juju, Salma, Fathur, Fachri, dan Hanif) melaksanakan pengabdian di Kalurahan Wukirsari, Imogiri, Bantul. Wukirsari sendiri sejak Mei 2025 telah berkomitmen menjadi desa inklusi sebuah desa yang ramah dan memberikan ruang setara bagi seluruh warganya, termasuk penyandang disabilitas, anak-anak, perempuan, serta kelompok rentan lainnya.
Dalam konteks ini, mahasiswa PPM Wukirsari hadir bukan hanya sebagai pengamat, melainkan sebagai bagian dari proses perubahan. Mereka terlibat langsung dalam upaya memperkuat basis data, membangun komunikasi dengan perangkat desa, serta mendorong lahirnya struktur kelembagaan yang mendukung terwujudnya desa inklusi.
Proses Pendataan:Dari Lapangan hingga Data Fiks
Salah satu langkah strategis yang dilakukan mahasiswa PPM adalah melakukan pembaruan dan konfirmasi data penyandang disabilitas di Kalurahan Wukirsari. Pendataan dilaksanakan pada 16–20 Oktober 2025 dengan metode wawancara langsung kepada setiap kepala dukuh di wilayah tersebut.
Proses ini tidak hanya sebatas pencatatan, tetapi juga verifikasi dan validasi agar data yang diperoleh benar-benar akurat dan dapat dijadikan dasar kebijakan. Dari hasil pendataan dan pengolahan data, diperoleh jumlah penyandang disabilitas sebanyak 158 jiwa dari kurang lebih 17.000 penduduk Wukirsari.
Data ini menjadi fondasi penting dalam merancang langkah-langkah strategis menuju desa inklusi. Peran mahasiswa dalam memastikan ketepatan data menunjukkan kontribusi nyata dalam proses perencanaan pembangunan yang lebih partisipatif dan berbasis kebutuhan
Terbentuknya KDK"Padi Sari"
Tidak berhenti pada pendataan, mahasiswa PPM juga mengambil peran dalam mendorong terbentuknya Kelompok Difabel Kalurahan (KDK) Wukirsari. Dalam proses wawancara, mahasiswa meminta rekomendasi dari para kepala dukuh terkait nama-nama yang berpotensi dan bersedia terlibat dalam kepengurusan KDK.
Dari proses tersebut, diperoleh 30 nama calon pengurus yang kemudian dihimpun dan dikoordinasikan bersama pihak kalurahan. Pada 9 Desember 2025, para calon pengurus secara resmi diundang oleh pemerintah kalurahan untuk membentuk KDK yang diberi nama “Padi Sari.”
Terbentuknya KDK “Padi Sari” menjadi langkah konkret menuju penguatan desa inklusi. Kehadiran kelompok ini diharapkan mampu menjadi wadah aspirasi, ruang pemberdayaan, serta motor penggerak kegiatan bagi penyandang disabilitas di Wukirsari.
Terbentuknya KDK “Padi Sari” menjadi langkah konkret menuju penguatan desa inklusi. Kehadiran kelompok ini diharapkan mampu menjadi wadah aspirasi, ruang pemberdayaan, serta motor penggerak kegiatan bagi penyandang disabilitas di Wukirsari.
Upaya ini tentu tidak terlepas dari peran aktif Pemerintah Kalurahan Wukirsari. Komitmen yang ditunjukkan melalui dukungan kebijakan, fasilitasi pertemuan, serta keterbukaan terhadap proses pendataan dan pembentukan KDK menunjukkan adanya kerja sama yang solid antara pemerintah kalurahan dan mahasiswa PPM. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa pembangunan inklusif tidak dapat berjalan sendiri, melainkan membutuhkan sinergi berbagai pihak untuk benar-benar mewujudkan Wukirsari sebagai desa yang nyata dan berkelanjutan dalam nilai-nilai inklusi.