PMI UIN Sunan Kalijaga Dorong Akses Layanan Kesehatan Inklusif bagi Penyandang Disabilitas di Wukirsari melalui Partisipatory Actions Research

Bantul, 13 Agustus 2026 – Program Studi S1 Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, melaksanakan kegiatan Participatory Action Research (PAR) bertema “Mewujudkan Aksesibilitas Kesehatan bagi Penyandang Disabilitas di Desa Wukirsari, Bantul, DI Yogyakarta”. Kegiatan yang berlangsung di Balai Kalurahan Wukirsari ini melibatkan dosen, mahasiswa, pemerintah kalurahan, kader, komunitas, serta berbagai unsur masyarakat.

Kegiatan ini bertujuan memetakan kondisi aksesibilitas pelayanan kesehatan, mengidentifikasi kebutuhan dan hambatan yang dihadapi penyandang disabilitas, serta menyusun rekomendasi dan rencana aksi partisipatif untuk mendorong pelayanan kesehatan yang lebih inklusif.

Ketua Program Studi S1 PMI, Siti Aminah, S.Sos.I., M.Si., dalam draf pernyataan yang perlu dikonfirmasi menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam proses pemberdayaan.

“Melalui pendekatan PAR, kami ingin mendorong proses pengembangan masyarakat yang berangkat dari kebutuhan dan pengalaman warga. Penyandang disabilitas perlu ditempatkan sebagai subjek pembangunan yang memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi dan terlibat dalam menentukan solusi atas persoalan yang mereka hadapi,” ungkapnya.

Kepala Kalurahan Wukirsari, Susilo Hapsoro, S.E., dalam draf kutipan yang perlu dikonfirmasi menyampaikan bahwa kolaborasi antara pemerintah kalurahan, perguruan tinggi, dan masyarakat diperlukan untuk memperkuat pembangunan yang inklusif.

“Persoalan aksesibilitas kesehatan membutuhkan perhatian dan kerja sama berbagai pihak. Kegiatan ini diharapkan dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, khususnya penyandang disabilitas, sehingga hasilnya dapat menjadi bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan pelayanan di tingkat kalurahan,” ujarnya.

Fasilitator kegiatan, Dr. Festy Mahanani Mulyaningrum, MPH, bersama Muhamad Rashif Hilmi, M.Sc., mendampingi proses pengenalan isu aksesibilitas kesehatan, identifikasi kebutuhan, serta diskusi partisipatif. Dalam draf pernyataannya, Dr. Festy menekankan bahwa pengalaman penyandang disabilitas merupakan bagian penting dalam memahami persoalan akses pelayanan kesehatan.

“Pendekatan partisipatif memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk menyampaikan pengalaman dan kebutuhan mereka secara langsung. Dengan memahami kondisi dari perspektif warga, rekomendasi yang dirumuskan diharapkan lebih sesuai dengan kebutuhan di lapangan dan dapat ditindaklanjuti melalui kolaborasi berbagai pihak,” jelasnya.

Rangkaian kegiatan meliputi pengantar mengenai aksesibilitas kesehatan, identifikasi kebutuhan dan hambatan, diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion/FGD), pemetaan partisipatif, serta refleksi dan penyusunan rekomendasi awal. Proses ini melibatkan unsur pemerintah kalurahan, kader kesehatan, kelompok masyarakat, komunitas, mahasiswa, dan dosen PMI.

Salah seorang peserta, dalam draf kutipan yang perlu disesuaikan dengan hasil wawancara, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman masyarakat dengan upaya perbaikan pelayanan.

“Melalui diskusi bersama, kebutuhan penyandang disabilitas dapat dibicarakan secara lebih terbuka. Harapannya, hasil kegiatan ini tidak berhenti pada pemetaan masalah, tetapi dapat menjadi dasar untuk menentukan langkah nyata agar pelayanan kesehatan semakin mudah diakses dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, Prodi PMI UIN Sunan Kalijaga memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat berbasis pemberdayaan. Kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran bagi dosen dan mahasiswa untuk menerapkan pendekatan pengembangan masyarakat yang menekankan partisipasi, kesetaraan, dan keadilan sosial.