Berdaya melalui Budaya Desa : Sinergi Pemerintah Desa bersama Mahasiswa dalam Tajuk Taskombang Culture Carnival (TCC)
Desa Taskombang, kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten
DESA MAWA CARA, NEGARA MAWA TATA
Desa menentukan arah pembangunan untuk kemajuan bersama dan Negara yang membuatkan tatanan. Peri bahasa Jawa ini membuat kita semua yakin bahwa desa adalah pondasi peradaban bangsa.
Klaten, 25 Oktober 2024. Pemberdayaan masyarakat masih menjadi sesuatu yang penting untuk dilaksanakan. Baik di komunitas masyarakat Desa maupun di Kota. Adanya pemberdayaan masyarakat, diharapkan dapat meningkatkan kapasitas, kemandirian serta ksejahteraan. Baik di bidang ekonomi, budaya dan politik. Adapun dalam pemberdayaan masyarakat, sering dijumpai dengan beberapa metode pendekat. Seperti pendekatan berbasis agama, budaya, dan kebijakan.
Taskombang Culture Carnival (TCC) merupakankan sebuah event tahunan yang dilaksanakan sejak tahun 2021. Hingga saat ini TCC sudah berjalan yang ke-4 tahun. Pada tahun ini, TCC berkolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat, mulai dari masyarakat Desa Taskombang sendiri, pemerintah desa serta Mahasiswa praktik pengembangan masyarakat (PPM) UIN Sunan Kalijaga, KKN dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Volunter dari ISI Yogyakarta. Selain itu, juga turut dimeriahkan dari berbagai daerah. Seperti Riau, Kalimantan Tengah, Solo, Yogyakarta, Magelang.
“Taskombang Culture Carnival4” ini mengambil tema“Padang Ing Jiwa”.
“Padangitu terang, jiwa itu adalah kehidupan batin manusia. Kita merujuk pada satu buah konsepsi yang ditulis Empu Prapanca di KitabNegarakertagama, yaitu desa yang punya cara, desa yang punya kreativitas. Sedangkan pemangku kebijakan — negara yang akan mengayomi itu. Sehingga konsepsi budaya sebagai aset, budaya desa sebagai aset itu bisa dirumuskan lebih dalam lagi untuk kemajuan masyarakat. Jadi“padang ing jiwa”seperti itu, ya,” jelas Abimanyu.
Adapun dalam pagelaran ini, di bagi menjadi dua kegiatan. Pertama ritus budaya dan performance art,seperti ; pertunjukan kesenian dan Ritus iringan lembu nirmala, Ikrar Wanamantaka, Kapidulur dan dialog budaya.
Acara ini bukan sekedar pagelaran biasa, jauh dari itu. Bertujuan untuk menggali semua potensi yang ada. Serta meningkatkan guyup rukun yang aman secara tidak langsung akan meningkatkan psikologis yang positif bagi masyrakat.
Abimayu menjelaskan tentang "kapi dulur".
“Kapi Duluritu acara yang sederhana, kumpul warga pakai makan-makan tumpeng itu. Sebetulnya itu juga banyak, cuma persoalannya adalah bagaimana memaknai kebersamaan warga ini. Ini adalah semangat gotong royong yang perlu ditumbuhkembangkan, yang mana praktik kegotongroyongan teruji dapat mengatasi banyak persoalan (ancaman),” terangnya.
Dalam dialog budaya menghadirkan narasumber sutanto (mbh tanto mendut) beliau seorang inisiator dan penggerak dalam Festival Lima Gunung (FLG) yang berada di Magelang. Festival yang diselenggarakan sudah ke 23. Mbh tanto mengungkapkan, " Di FLG, masyarakat bergerak dengan menggunakan modal sosial yang ada". Menarik nya, FLG juga salah satu acara yang tidak mau "merepotkan pemerintah”. Sehingga acara FLG ini benar benar-benar murni dari gerakan sosial-budaya masyarakat mulai dari pendanaan, hingga bagaimana konsep yang akan diterapkan setiap tahun nya.
"FLG juga menjadi salah satu inspirasi dalam acara TCC ini." Ungkap abimayu dalam sela sela diskusinya.
“Desa punya identitas kebudayaan, yang teerkorelasi dengan masalah sosial, ekonomi, dan politik. Festival ini untuk mengangkat budaya lokal diDesa Taskombang. Seperti ritus budaya dihadirkan dengan wujudperformance art.Namun demikian, gelaran ini bukan hanya sekedar pertunjukan seni atau arak-arakan yang umum digelar, tetapi bagaimana esensinya dapat dijiwai oleh masyarakat desa,” tutur Abimanyu.
"Semangat dari kebudayaan desa ini tidak lain juga berdampak dengan bagaimana berpengaruh terhadap aspek unsur kebudayaan desa. Seperti sosiokultural yang ada, seperti pertanian, ekonomi, bahasa, seni serta tentang kemakmuran sebuah desa sendiri. Sedang kan output dari kegiatan ini. Diharapkan melalui kearifan lokal, budaya, aset potensi yang ada di desa sepenuhnya dirasqkan dari desa oleh desa. Serta bisa menyangga kota. " Jelas abimayu
Adapun semangat ini yang harus diperkuat agar bisa menggiring desa ke ranah kemakmuran dengan tetap menjaga identitasnya yang harmonis antara alam dan manusia. Mengingat dewasa ini mulai terkikis dengan moderenisasi yang menjadikan manusia memberikan jarak terhadap lingungan sekitar dan merasa asing dalam peradabanya yang asli yaitu desa.
Dari kacamata Pemberdayaan Masyarakat, acara Taskombang Culture Carnival (TCC) memiliki peran penting dalam meningkatkan kapasitas, kemandirian, dan kesejahteraan. Melalui berbagai pendekatan budaya seperti kegiatan TCC bertujuan untuk menggali potensi yang ada di masyarakat dan memperkuat ikatan sosial yang positif. TCC tidak hanya sekadar pagelaran seni, tetapi juga merupakan upaya untuk melestarikan budaya lokal, meningkatkan semangat gotong royong, serta mengatasi persoalan sosial melalui kekuatan sosial-budaya. Festival ini mengangkat budaya desa, terutama di bidang sosial, ekonomi, dan politik, serta memberikan inspirasi bagi masyarakat untuk menjaga identitas kebudayaan dan menciptakan kemakmuran yang berkelanjutan, dengan tetap menjaga keharmonisan antara manusia dan alam.